Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Berdasarkan hasil kegiatan Penyusunan Base Line Pesisir pada tahun 2007, tercatat ada 5 Desa/dusun yang termasuk di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Sembilang dengan perkiraan jumlah penduduk 6.755 jiwa dan jumlah kepala keluarga 1727 kk. Dari ke 5 Desa/Dusun yang disurvey tersebut, 2 Desa/Dusun diantaranya terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Sembilang dengan jumlah penduduk mencapai 2.140 jiwa dan 651 kk.

Pemukiman di dalam kawasan Sembilang meliputi Terusan Dalam, Tanjung Birik, Simpang Ngirawan (Merawan), Dusun Sembilang, Sungai Bungin, dan bagan-bagan ikan di perairan pantai. Di sekitar kawasan, seperti di Tanah Pilih, Sungsang, dan Karang Agung juga terdapat sejumlah pemukiman. Karang Agung merupakan daerah transmigrasi yang berada di selatan kawasan. Di Semenanjung Banyuasin terdapat beberapa pemukiman para petambak udang (Solok Buntu dan sekitarnya).

Untuk pemukiman Desa Tanah Pilih mayoritas masyarakatnya berasal dari suku Bugis yang tiba di pesisir Sembilang sebelah utara (dekat Sungai Benu) sekitar 30 tahun yang lalu, dan mulai membuka mangrove dan hutan rawa untuk pertanian (padi dan kelapa) sebelum beralih ke kegiatan mencari ikan di sungai di Terusan Dalam.

kapal

Pemukiman Desa Tanah Pilih

 

Namun demikian, Dusun Sembilang tampaknya telah ada jauh sebelum masyarakat Bugis datang. Di Desa Sembilang dan juga Sungsang penduduknya juga terdiri dari suku Melayu. Tidak ada data mengenai kapan Dusun Sembilang mulai ada, namun Desa Sungsang diperkirakan telah ada sekitar 500 tahun yang lalu (Furukawa, 1994). Kawasan pemukiman di dalam Taman Nasional Sembilang yang cukup besar terletak di muara Sungai Sembilang yaitu Dusun Sembilang yang merupakan bagian kawasan Desa Sungsang IV.

Kegiatan perikanan di kawasan perairan Sembilang sebagian besar terpusat di sini, selain di Sungsang, ibu kota kecamatan Banyuasin II yang terletak di muara Sungai Musi (di luar kawasan TN). Beberapa pemukiman juga tersebar di muara-muara sungai di kawasan Taman Nasional Sembilang ini. Di bagian utara kawasan Taman Nasional Sembilang, pemukiman yang cukup lama terletak di Terusan Dalam. Di samping itu, sejumlah keluarga juga tinggal di atas bagan-bagan di laut yang dangkal.

sungai

Pemukiman Dusun Sembilang

 

Masyarakat pada umumnya tinggal di atas rumah-rumah panggung di tepi sungai di daerah pasang surut, dan sedikit masuk ke arah darat. Ketersediaan air bersih/tawar merupakan masalah utama masyarakat yang tinggal di kawasan Sembilang. Mereka mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih/tawar. Perikanan tangkap merupakan kegiatan sehari-hari bagi masyarakat di Sembilang. Mereka umumnya menangkap ikan di perairan laut Sembilang dan juga di sungai-sungai yang terdapat di dalam kawasan Taman Nasional. Ikan (seperti kelompok Ariidae, Carangidae, Leioghnathidae, Lutjanidae, Polynemidae, Sciaenidae, Serranidae) dan udang biasanya ditangkap antara bulan Mei hingga November, saat laut tenang.
Izin penangkapan setiap tahun dilelang (disebut sebagai lelang lebak-lebung) yang dulunya berasal dari tingkat marga. Sistem lelang ini juga untuk hak-hak distribusi akses ke sumber daya lain, seperti Nibung (Oncosperma tigillarium, untuk tiang dan rakit), Nipah (Nypa fruticans, daunnya untuk atap), rotan (Korthalsia spp., Calamus spp.) dan Jelutung (Dyera costulata, getahnya untuk permen karet). Setidaknya hingga tahun 1980an, pemanfaatan hasil hutan ini (dengan perkecualian untuk Jelutung dan Nipah) terlihat cukup berjalan baik (Danielsen & Verheught, 1990).

Di samping mencari ikan, masyarakat setempat juga memelihara kebun dan pertanian skala kecil, yang dikerjakan pada musim hujan. Di bagian selatan kawasan Taman Nasional, tepatnya di Semenanjung Banyuasin, terdapat kegiatan budidaya tambak yang sebagian besar dilakukan oleh masyarakat pendatang yang berasal dari Provinsi Lampung; beberapa masyarakat yang berasal dari Sungsang juga telah memulai usaha ini dalam kelompok-kelompok yang lebih.

Peningkatan jumlah penduduk dan meningkatnya berbagai kebutuhan untuk perumahan, pendidikan anak, kesehatan, kendaraan bermesin, barang elektronik untuk informasi dan hiburan, dll adalah faktor yang harus diwaspadai oleh pihak pengelola Taman Nasional Sembilang, karena akan mendorong intensitas pemanfaatan sumberdaya hutan dan perairan secara tidak terkendali dan tidak lestari, sehingga mempercepat proses penurunan kualitas SDA dan lingkungan.

Print Friendly